Perubahan Inspiratif di MTs Al Mukhtariyah

WARTAMADRASAH.COM: INSPIRASI - Sampai awal tahun 2013, MTs Al-Mukhtariyah belum mampu memikat orangtua untuk menitipkan anak. Saat itu suasana pembelajaran madrasah masih konvensional dengan siswa duduk berbanjar dan guru lebih banyak berceramah secara monoton. Kondisi perpustakaan jauh dari standar kelayakan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan warga madrasah atas sumber informasi akademik. Kondisi lingkungan madrasah cenderung tidak mendukung iklim akademik dan kenyamanan belajar. Spirit perubahan hadir di madrasah ketika USAID PRIORITAS memberikan sejumlah paket pelatihan. 

Para guru mendapat pelatihan praktik yang baik dalam pengajaran dan pembelajaran kontekstual (CTL-Contextual Teaching and Learning). Selepas pelatihan, mereka mendapat  pendampingan oleh fasilitator daerah (fasda) guna mempraktikkan hasil pelatihan, mengevaluasi, dan mencoba kembali secara berkesinambungan. Pada saat yang sama, kepala madrasah, guru, dan komite madrasah berkesempatan mengikuti pelatihan manajemen berbasis sekolah (MBS) yang juga ditindaklanjuti dengan pendampingan.

Setelah mengikuti pelatihan USAID PRIORITAS, kepala madrasah langsung menerapkan hasil pelatihan MBS di madrasahnya. Dibentuklah tim pengembang madrasah dan tim pengembang budaya baca yang merupakan tim gabungan dari pihak manajemen (kamad dan wakamad), perwakilan guru, staf tata usaha, dan komite madrasah. Tim ini segera menyusun program madrasah dan, usai digodog, segera disosialisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi.

Guru-guru yang belum mengikuti pelatihan USAID PRIORITAS, diwajibkan mengamati proses pembelajaran guru yang sudah dilatih, guna mendapatkan gambaran awal model CTL. Setelah dirasa cukup punya gambaran, para guru ini dilatih dalam program diseminasi, praktik di ruang kelas, dan didampingi guru yang sudah dilatih lebih awal. Kini semua guru MTs Al-Mukhtariyah sudah mengikuti pelatihan CTL dan dalam semua mata pelajaran, mampu menerapkan model CTL. 

Di akhir tahun 2013, perubahan penting telah terjadi di MTs Al-Mukhtariyah. Para siswa madrasah tampak menikmati proses pembelajaran yang menantang sekaligus menyenangkan. Lingkungan sekitar kini menjadi sumber belajar aktif yang sangat produktif. Siswa belajar Bahasa Inggris secara terpadu dengan praktik percobaan sains. Mereka belajar Bahasa Indonesia di alam terbuka sambil mencari inspirasi merangkai karya sastra. Mereka juga menemui dan mewawancarai pihak-pihak yang kompeten untuk belajar IPS dan mata pelajaran lain. Bahkan, pendekatan CTL mereka terapkan juga dalam proses pembelajaran Ilmu Fiqih mengenai pemulasaraan jenazah. 

Para guru juga telah terampil membuat lembar kerja bermuatan pertanyaan tingkat tinggi dan proyek kegiatan yang merangsang kreatifitas siswa. Diskusi kelompok dan presentasi menjadi pengalaman keseharian siswa. Halaman madrasah dimanfaatkan guru untuk siswa belajar sambil bermain. Bahkan lorong-lorong sekolah dimanfaatkan guru untuk proses belajar yang mengasyikkan bagi para siswa. 

Kelas-kelas dibenahi dengan warna-warni yang terkesan semarak dan menyenangkan. Sehingga, muncul suasana yang mendukung aktivitas belajar. Aplikasi warna yang tepat turut menunjang semangat belajar. 

Hasil karya siswa dipajang di setiap ruang kelas sehingga siswa merasa bangga, meneguhkan atmosfer akademik madrasah, dan siswa mendapat sumber belajar baru dari pajangan. Karya-karya siswa dihimpun pada sebuah galeri madrasah, pernah dipamerkan pada showcase tingkat kabupaten, pameran tingkat provinsi, dan bahkan unjuk karya dan kinerja madrasah tingkat nasional di Kemendikbud RI. Saat itu, stan MTs Al-Mukhtariyah disambangi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang tampak kagum dan membanggakan kinerja Al-Mukhtariyah dalam sambutannya di hadapan pemuka nasional. 

Kepala madrasah mendukung penuh  semua kebutuhan pembelajaran dari ATK, sarana, penataan ruang kelas dengan segala perabotannya, hingga  penataan lingkungan madrasah. Segala kebutuhan pembelajaran dibahas pada tingkat perencanaan, termasuk kebutuhan anggarannya, antara  manajemen, guru, dan komite madrasah. 

Madrasah juga menjalin kemitraan dengan berbagai pihak agar kualitas madrasah terus meningkat. Kemitraan dengan PT Indonesia Power, TISERA, ormas Islam, dokter Korea, dan masjid besar Rajamandala merupakan beberapa contoh kemitraan yang sudah dibangun. Guru dan siswa kerap memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang pembelajaran.

Budaya baca telah berkembang baik. Perpustakaan ditata apik, koleksinya  bervariasi dan up-to-date, dan dilengkapi dengan sistem layanan digital. Siswa teratur menerbitkan majalah dan mereka membentuk kelompok gemar membaca yang disebut reading club. Sudut baca terdapat pada setiap ruang kelas dan setiap bidang tembok, koridor, dan lorong dihiasi rak-rak buku yang bisa diakses warga madrasah setiap saat. 

Untuk membiasakan siswa membaca, Al-Mukhtariyah menjadwalkan kegiatan membaca massal dan membaca senyap di halaman madrasah. Pembiasaan membaca ini disuntikkan lebih dini kepada siswa baru pada masa orientasi. Komitmen ini dikuatkan serangkaian kampanye budaya baca dalam bentuk poster, spanduk, dan baliho yang menghiasi setiap sudut  madrasah. 

Budaya baca ini telah melahirkan sejumlah karya siswa, antara lain artikel reviu buku menggunakan Ishikawa Fishbone, reading diary, kumpulan cerpen, dan buku digital. Guru-guru pun telah menulis buku yang diterbitkan dalam bentuk cetak dan digital.